nenk poenya


TRANSPIRASI
Desember 16, 2007, 5:14 am
Diarsipkan di bawah: L.A.P.O.R.A.N

ACARA VII
TRANSPIRASI

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Air merupakan salah satu factor penentu bagi berlangsungnya kehidupan tumbuhan. Banyaknya air yang ada didalam tubuh tumbuhan selalu mengalami fluktuasi tergantung pada kecepatan proses masuknya air ke dalam tubuh tumbuhan, kecepatan proses penggunaan air oleh tumbuhan, dan kecepatan proses hilangnya air dari tubuh tumbuhan. Hilangnya air dari tubuh tumbuhan dapat berupa cairan dan uap atau gas. Proses keluarnya atau hilangnya air dari tubuh tumbuhan dapat berbentuk uap atau gas ke udara di sekitar tubuh tumbuhan dinamakan transpirasi. Transpirasi berlangsung melalui bagian tumbuhan yang berhubungan dengan udara luar, yaitu luka dan jaringan epidermis pada daun, batang, cabang, ranting, bunga, buah, dan bahkan akar.
Cepat lambatnya proses transpirasi ditentukan oleh faktor-faktor yang mampu merubah wujud air sebagai cairan ke wujud air sebagai uap atau gas dan faktor-faktor yang mampu menyebabkan pergerakan uap atau gas. Faktor-faktor tersebut meliputi suhu, cahaya, kelembaban udara, dan angina. Di samping itu luas permukaan jaringan epidermis atau luka tempat proses transpirasi berlangsung juga ikut berperan.
Pada kesempatan ini akan dicoba ditunjukkan pengaruh dari suhu terhadap kecepatan proses transpirasi.

B. Tujuan
Praktikum kali ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap kecepatan transpirasi.

II. BAHAN DAN ALAT
A. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah:
1. Caisim
2. Bawang daun
3. Label
B. Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah;
1. Pisau
2. Timbangan
3. Termometer

III. PROSEDUR KERJA
Cara kerja praktikum kali ini adalah:
1. Dua Caisim dan dua bawang daun yang masih segar disiapkan.
2. Bagian bawah sayuran dipotong.
3. Caisim dan bawang daun dipisahkan untuk disimpan pada ruangan dan kulkas.
4. Masing-masing caisim dan bawang daun ditimbang.
5. Masing-masing kelompok yang telah ditimbang diberi label.
6. bagi kedua kelompok dilakukan penimbangan ulang setelah 1, 2, 3, 4, dan 5 hari disimpan. Sebelum ditimbang label lebih dahulu. Label dipasang kembali setelah penimbangan selesai.

IV. HASIL PENGAMATAN
Tabel pengamatan pengaruh suhu terhadap berat air yang hilang
Hari ke- BeratBawang daun Berat caisim Berat air yang hilang pada
Bawang daun Caisim
Berat diruang (gr) Berat dikulkas (gr) Berat diruang (gr) Berat dikulkas (gr) Berat diruang (gr) Berat dikulkas (gr) Berat diruang (gr) Berat dikulkas (gr)
1. 150 90 300 140 30 10 25 15
2. 120 80 225 125 10 10 25 15
3. 110 70 250 110 10 0 30 0
4. 100 70 220 110 10 5 20 10
5. 90 65 200 100

V. PEMBAHASAN
Praktikum kali ini yaitu mempelajari tentang transpirasi pada suhu ruang dan di dalam kulkas. Praktikum tersebut menggunakan bahan bawang daun dan caisim. Pada bawang daun beratnya saat hari pertama yang berada dalam ruang yaitu 150 gram dan dikulkas 90 gram. Pada hari kedua berat daun bawan yang berada dalam ruang turun sebesar 30 gram, didalam kulkas turun sebesar 10 gram. Pada hari ke tiga daun bawang yangada di ruang beratnya turun sebesar 10 gram, di dalam kulkas turun sebesar 10 gram. Hari ke empat berat yang ada dalam ruangan turun sebesar 10 gram dan berat daun bawang yang ada di kulkas turun sebesar 0 gram. Hari kelima daun bawang yang ada di ruangan beratnya turun sebesar 10 gram dan daun bawang yang ada di kulkas beratnya turun sebesar 10 gram. Sehingga didapat berat akhir yang ada di ruangan yaitu 90 gram dan di dalam kulkas berat terakhirnya adalah 65 gram. Dari hasil data pengamatan praktikum dengan menggunakan bahan daun bawang di dapat hasil bahwa sayuran cenderung kehilangan air lebih cepat pada udara hangat dari pada udara dingin. Pada penyimpanan di ruangan didapat proses laju transpirasi yang konstan mulai dari hari ke 2 dan seterusnya. Tetapi, penyimpanan di dalam kulkas atau lemari pendingin belum menunjukkan gejala bahwa laju transpirasi akan konstan (laju transpirasi menurun dan naik lagi).
Kegiatan praktikum yang kedua yaitu mengunakan bahan sayuran caisim. Pada caisim beratnya saat hari pertama yang berada dalam ruang yaitu 300 gram dan dikulkas 190 gram. Pada hari kedua berat daun bawan yang berada dalam ruang turun sebesar 25 gram, didalam kulkas turun sebesar 15 gram. Pada hari ke tiga caisim yang ada di ruang beratnya turun sebesar 25 gram, di dalam kulkas turun sebesar 15 gram. Hari ke empat berat yang ada dalam ruangan turun sebesar 30 gram dan berat caisim yang ada di kulkas turun sebesar 0 gram. Hari kelima caisim yang ada di ruangan beratnya turun sebesar 20 gram dan caisim yang ada di kulkas beratnya turun sebesar 10 gram. Sehingga didapat berat akhir yang ada di ruangan yaitu 200 gram dan di dalam kulkas berat terakhirnya adalah 100 gram. Dari hasil data pengamatan praktikum dengan menggunakan bahan caisim di dapat hasil bahwa sayuran cenderung kehilangan air lebih cepat pada udara hangat dari pada udara dingin. Pada penyimpanan di ruangan didapat proses laju transpirasi yang selalu berubah-ubah. Penyimpanan di dalam kulkas atau lemari pendingin menunjukkan gejala bahwa laju transpirasi akan terus menurun.
Praktikum tersebut dapat memberi kesimpulan bahwa tumbuhan atau komoditas hortikultura cenderung kehilangan air lebih cepat pada udara hangat dari pada udara dingin. Dan pada hari yang sama penyimpanan dalam kulkas dapat menunjukkan gejala bahwa kegiatan transpirasi dapat dihambat yaitu dalam praktikum didapat nilai penurun laju 0 gram.
Pendinginan secara efektif memperlambat laju transpirasi, dengan demikian pematangan dan pengeluaran panas juga dihambat. Keuntungan yang diperoleh dari penyimpanan dalam lemari pendingin adalah dapat mempertahankana mutu komoditas yang mudah rusak terutama komoditas hortikultura.
Pengawetan juga mengurangi pembusukan. Dengan penempatan selama 24 jam pada suhu 1000 F dengan rh 95-100% dapat sepenuhnya meniadakan pertumbuhan jamur di permukaan dan mengurangi pengeringan bagian dalam jaringan, jika dibandingkan dengan cuplikan-cuplikan yang tidak mendapat perlakuan pengawetan pada penyimpanan dengan suhu sekitar. Ternyata pengawetan lebih efektif pada suhu sekitar dari pada dalam penyimpanan suhu dingin.
Proses penghilangan warna hijau untuk dapat dipasarkan dilaksanakan dalam ruang perlakuan khusus dengan suhu dan kelembaban terkendali yang diberi C2H4 kadar kira-kira. Pendinginan pendahuluan yang menggunakan udara yang dipaksakan mempunyai kelaikan komersial. Pendingin pendahuluan memaksa udara melewati rongga-rongga kosong antara buah-buahan.
Penanganan terhadap komoditi sayuran harus hati-hati karena komoditi tersebut masih merupakan benda hidup yang melakukan pernafasan. Komoditi sayuran mempunyai kadar air 70-95 %. Stomata yang banyak yang terdapat pada bagian-bagian tanaman dapat menyebabkan tanaman mudah layu. Kememaran pada sayuran akibat benturan akan menimbulkan perubahan-perubahan penampakan dan susunan kimianya, serta apabila mengalami luka akan mempercepat kebusukan.
Dalam pembungkusan plastik dapat pula timbul udara yang termodifikasi yang menguntungkan maupun yang merugikan. Udara yang telah mengalami perubahan itu menghambat pematangan dan memperpanjang umur komoditas jika komoditas tersebut akan di pasarkan. Kehilangan uap air yang disusul dengan mengeriputnya buah atau sayuran merupakan sebab kehilangan kesegaran komoditas tersebut. Hilangnya air dan uap air mempengaruhi penampakan dan tekstur buah atau sayuran tersebut.
Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi transpirasi adalah (Dwijoseputro, 1986):
1. Kelembaban
Gerakan uap air dari udara ke dalam daun akan menurunkan laju neto dari air yang hilang, dengan demikian seandainya faktor lain itu sama, transpirasi akan menurun dengan meningkatnya kelembaban udara.
Apabila stomata dalam keadaan terbuka maka kecepatan difusi dari uap air keluar tergantung pada besarnya perbedaan tekanan uap air yang ada di dalam rongga-rongga antar sel dengan tekanan uap air di atmosfer. Jika tekanan uap air di udara rendah, maka kecepatan difusi dari uap air di daun keluar akan bertambah besar begitu pula sebaliknya. Pada kelembaban udara relatif 50% perbedaan tekanan uap air didaun dan atmosfer 2 kali lebih besar dari kelembaban relatif 70% (Jayamiharja, 1977).

2. Suhu
Kenaikan suhu dari 180 sampai 200F cenderung untuk meningkatkan penguapan air sebesar dua kali. Suhu daun di dalam naungan kurang lebih sama dengan suhu udara, tetapi daun yang terkena sinar matahari mempunyai suhu 100 – 200F lebih tinggi dari pada suhu udara.
3. Cahaya
Cahaya mempengaruhi laju transpirasi melalui dua cara yaitu:
a. Sehelai daun yang terkena sinar matahari langsung akan mengabsorbsi energi radiasi.
2. Cahaya tidak usah selalu berbentuk cahay langsung dapat pula mempengaruhi transpirasi melalui pengaruhnya terhadap buka-tutupnya stomata, dengan mekanisme tertentu.
4. Angin
Angin cenderung untuik meningkatkan laju transpirasi, baik didalam naungan atau cahaya, melalui penyapuan uap air. Akan tetapi di bawah sinar matahari, pengaruh angin terhadap penurunan suhu daun, dengan demikian terhadap penurunan laju transpirasi, cenderung menjadi lebih penting daripada pengaruhnya terhadap penyingkiran uap air.
5. Kandungan air tanah
Jika kandungan air tanah menurun, sebagai akibat penyerapan oleh akar, gerakan air melalui tanah ke dalam akar menjadi lebih lambat. Hal ini cenderung untuk meningkatkan defisit air pada daun dan menurunkan laju transpirasi lebih lanjut.

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
1. Praktikum tersebut dapat memberi kesimpulan bahwa tumbuhan atau komoditas hortikultura cenderung kehilangan air lebih cepat pada udara hangat dari pada udara dingin. Dan pada hari yang sama penyimpanan dalam kulkas dapat menunjukkan gejala bahwa kegiatan transpirasi dapat dihambat yaitu dalam praktikum didapat nilai penurun laju 0 gram.
2. Pendinginan secara efektif memperlambat laju transpirasi, dengan demikian pematangan dan pengeluaran panas juga dihambat. Keuntungan yang diperoleh dari penyimpanan dalam lemari pendingin adalah dapat mempertahankana mutu komoditas yang mudah rusak terutama komoditas hortikultura.
3. Penanganan terhadap komoditi sayuran harus hati-hati karena komoditi tersebut masih merupakan benda hidup yang melakukan pernafasan. Komoditi sayuran mempunyai kadar air 70-95 %. Stomata yang banyak yang terdapat pada bagian-bagian tanaman dapat menyebabkan tanaman mudah layu. Kememaran pada sayuran akibat benturan akan menimbulkan perubahan-perubahan penampakan dan susunan kimianya, serta apabila mengalami luka akan mempercepat kebusukan.

B. Saran
Pada praktikum kali ini seharusnya bahan yang digunakan tidak sama antar kelompok. Sehingga dapat mengetahui hasil laju transpirasi yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Dwidjoseputro. 1986. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Jayamiharja, Joni B. Ahmad. 1977. Diktat Fisiologi Tumbuhan Jilid I. Fakultas Pertanian UNSOED, Purwokerto.
Lakitan, Benyamin. 1995. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Pantastico, Er. B. 1989. Fisiologi Pasca Panen Penanganan dan Pemanfaatan Buah-Buahan dan Sayur-Sayuran Tropika dan Subtropika. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta


& Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar

bagusssssss….

Komentar oleh S_tea

Makasih yach…. link blogku donk.

Komentar oleh jurnal farmasi

sip

Komentar oleh ichi_3

guuuuuuddddd

Komentar oleh Jamie

neng meuni rajinnnnnn ngadameul nukieu!!!

Komentar oleh ujang

link ke situs ku dong…………

Komentar oleh aris.widie

bagus infonya..saya copy beberapa ya…?

Komentar oleh ritno

nay sy minta tolong kirimin buku fisiologi tumbuhan dalam bentuk pdf sama power poin. kirim ke emailku sj. yayat_hiday@yahoo.co.id

Komentar oleh Yayat Rahmat Hidayat




Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>